By: Agus Hermawan ( Running Enthusiast ) IG: @abah_ush

Well, Chicago Marathon 2019!
 
Chicago Marathon alias Chimar yang berlangsung Minggu (13 Oktober 2019) lalu merupakan
world marathon majors yang ketiga buat saya. Sebelumnya saya sudah mencicipi Tokyo Marathon dan
Berlin Marathon 2018. Sebenernya sih, saya tidak ada ambisi untuk mendapatkan Six Stars dengan
melengkapinya dengan London Marathon, New York Marathon apalagi Boston Marathon misalnya. Tapi
kalau ada rezeki siapa tahu, ha … ha…
Sebagai penggiat lari, dan seringkali diminta untuk memberi masukan – semacam konsultan
mungkin yaa—saya menjadikan event-event kelas dunia itu sebagai pembelajaran. Jadi ketika ikut diajak
urun rembuk untuk sebuah acara maraton misalnya, wawasan saya lumayan terbuka. “Pacer kehidupan”
saya Safrita Aryana—yang dikenal sebagai race director IdeaRun-- pun bukan melulu menjadi tim
support saya, tetapi juga sekaligus melakukan studi banding seperti juga di beberapa event maraton
internasional lainnya. Saat menjadi bagian tim untuk Borobudur Marathon 2017 misalnya, saya
mengusulkan agar event di salah satu heritage dunia itu harus reborn! Atau dilahirkan kembali, dan
sama sekali “lepas” dari event sebelumnya yang babak belur. Itulah yang kemudian Borobudur
Marathon 2017 yang kemudian digodok tim komunikasi dan lahir tag “Reborn Harmony”.
Chimar bagi pelari Indonesia, dikenal sebagai event yang “mudah” untuk mendapakan slot.
“Pokoknya, dari empat orang yang ikut ballot, pasti tiga orangnya dapet deh,” ujar seorang teman. Ya
mungkin karena itu juga, tercatat sebanyak 200-an orang pelari Indonesia ikut Chimar tahun ini.
Seluruhnya ada sekitar 400 an orang pelari Indonesia, termasuk WNI yang berdatangan dari berbagai
negara yang mengaspal di hutan beton Chicago bersama lebih dari 45.000 pelari dari 100 negara.
Sejak mendapat email dari penyelenggara Chicago Marathon ke-42 bulan Februari-Maret saya
langsung mempersiapkan diri. Saya bukan tipe pelari yang sering ikut maraton, tetapi hanya mengikuti
maraton tertentu saja dan menikmati program latihannya. Target finis maraton under COT dan enggak
penyok menjadi motivasi untuk tetap berlatih dan berolah raga terprogam. Dari pengalaman, kalau
sekedar untuk kebugaran saja, latihan olah raga seringkali menjadi ogah-ogahan dan ngasal.
Walaupun bukan maraton pertama kali, seperti biasa saya menjalani program latihan maraton.
Kali ini saya mencoba bersama coach Rudy Dimyana, sahabat saya yang juga dikenal sebagai coach
terbaik versi Asia Trail Master tahun 2018. Kedekatan saya, sebagai urang Bandung dengan barudak
Bandrex dan kebandungan—bukan kebadungan-- saya menjadi salah satu pertimbangan. Coach Rudy
memberikan program yang “keras” walaupun terasa nyaman dijalani.
Program latihan dengan mileage bertahap hingga 50-80 kilometer per minggu dengan 5 hari
latihan sebenarnya lebih dari cukup. Tetapi sebagai orang gajian dengan jam kerja tidak menentu,
menjadikan program latihan memang hanya tercapai 70-80 persen saja. Saat harus long run di akhir
pekan, apa daya harus ke luar kota. Saat hari latihan bangun pagi, lepas tengah malam baru nyampe
rumah. Latihan strength, salah satu latihan kunci untuk maraton pun kurang terasa maksimal.
Apalagi, plantar sejak ikut Volcano Run awal tahun , belum juga pulih total.
 
Sebuah latihan interval akibat ceroboh kurang pemanasan sempat terasa gejala ITBS,.Lutut regas di usia 57
tahun pun sempat bermasalah walaupun saya abaikan dengan latihan squat.
 
“Windy City”
 
Salah satu teror Chimar adalah kota itu sangat berangin dan suhu dingin. Cuaca tidak menentu.
“Beneran deh, pas lari badan kita bisa kedorong ama angin,” ujar Adriansyah Chaniago alias Bang Aad.
Salah satu pemegang Six Stars dari Indonesia itu memang menjadi salah satu referensi saya untuk
mengetahui kondisi Chimar. Bang Aad dikenal sebagai marathoner kawakan yang rinci mengetahu seluk
beluk setiap lomba yang diikutinya. “Dia tahu, di kilometer berapa ada apa, lengkap,” ujar Sabrina Ghani,
sahabat saya di RFI Trail yang tahun ini barengan ikut Chimar. (Ina ini yang belakangan menepuk gue di
kilometer 30 nanti saat saya jalan di sebuah jembatan dan menyalip saya…. Duuhh !!)
Apa yang disampaikan Bang Aad soal Chimar ini memang terbukti saat saya menjalaninya. Cuaca
yang tidak menentu hendaknya menjadi perhatian mereka yang akan berlari di Chimar. Suhu dingin dan
angin kencang bisa terjadi kapan saja. Hujan saat berlangsung lomba pun bisa saja terjadi seperti
kejadian di tahun sebelumnya. Panitia setiap hari memberi update tentang cuaca melalui email atau
aplikasi Chimar yang memberi warna sesuai dengan ancaman cuaca: hijau (rendah), kuning (moderat),
merah (tinggi) dan hitam (ekstrem). Hijau adalah kondisi terbaik dengan kondisi nyaman, walaupun
pelari tetap diminta waspada.
Untuk itulah saya menyiapkan dua set gears lari: untuk hujan dan tidak hujan dengan catatan
suhu sangat dingin tetap diwaspadai. Jangan lupa bawa penahan dingin saat jelang start, bisa jaket yang
siap buang, emergency blangket, selimut atau ponco plastic sederhana.
Menunggu lebih dari dua jam sejak kedatangan di garis start, tubuh memerlukan penahan
dingin. Apalagi seperti saya sebagai “pelatih” – pelari telat dan tertatih-tatih—mendapat Coral K (saya
kok bacanya koral K (eong).. ha ha…
Saya menggunakan ponco plastik keresek, lumayan membantu. Makdel, teman dari Indonesia
yang juga ikut Chimar tahun ini, malah menggunakan 4 lapis baju dan celana. Cara yang menurut saya,
tidak disarankan karena setelah lari 10 kilometeran ternyata tubuh menghangat. Belum lagi selepas 21
km, walaupun suhu tidak sedingin saat start (sekitar 4 derajat C dengan feel -2 derajat C), tetapi angina
terus menggigit tubuh. Angin menerpa tubuh dan membuat goyang tubuh beberapa kali terjadi,
terutama di sekitar kilometer 30an, saat berlari di antara hutan beton yang malah membentuk semacam
terowongan angina.
Yah, namanya maraton yang juga seperti kehidupan ya. Apa saja bisa terjadi di depan. Saya yang
enjoy dan happy berlari dengan pace nyaman ternyata akhirnya terasa kraam selepas kilometer 24-an.
Salt stick tidak membantu. Bisa jadi, kraam saya bukan karena kekurangan garam elektroit tetapi latihan
strength yang minus penyebabnya.
Selanjutnya daripada kaki ngelock dan enggak bisa lari, saya melakukan manajemen
memadukan lari dan power walk. Sambutan warga di sepanjang lintasan menjadi hiburan tersendiri dan
menjadi penyemangat. Oh, ya penanda jarak di Chimar menggunakan mile, dan KM di setiap lima
kilometer. Sportwatch juga umumnya pembacaan GPS-nya kacau sehingga pace dan jarak di jam
menjadi rancu. Masak pelari keong model gue di jam sampai half marathon pace terbanya 5.20-5.30 ha
ha gak mungkin banget mengingat pace 7 saja saya sudah hah heh hoh….
 
Ya, singkat cerita. Alhamdulillah, finish dengan bahagia. Tidak mendapatkan personal best
memang, tetapi saya bahagia menjalaninya. Kapan-kapan kalo ada yang mau ke Chicago Marathon
berikutnya, bisa kok kita sharing ya bersama Skolari). Tetap semangat ya!