By: Theresia Lirani (Running Enthusiast) 

Sudah lama saya menjadikan jogging atau lari sebagai cara saya mendapatkan badan yang fit. Hampir setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, saya memanfaatkan 1 jam untuk sekadar berlari-lari kecil di lingkungan tempat tinggal.

Sampai saya merasa bahwa untuk urusan olahraga yang satu ini, saya tidak perlu belajar apa-apa lagi. Tinggal pakai sepatu lari, pemanasan sedikit, berangkat…!

Suatu ketika, saya ngobrol dengan Mas Eldi, teman kantor yang ternyata pegiat lari. Mungkin karena antusiasme saya, Mas Eldi meminta saya untuk bergabung dengan teman-teman Skolari. Kebetulan, saat itu saya sangat ingin mengikuti ajang Pocari Sweat, dan tidak ada teman yang bisa saya ajak. Untungnya, teman-teman di sini welcome banget. Walau saya hanya pemula, bukan pelari kencang seperti mereka, mereka tidak hanya welcome, tetapi juga mau mengajarkan saya.

Di kesempatan pertama saya bergabung latihan bareng Skolari, saya terkaget-kaget, karena ternyata cara lari yang salama ini aku lakukan ‘amburadul’, bahkan jauh dari teknik yang seharusnya.

“usahakan kepala lurus, jaga pandangan ke depan!” “Tegakkan dada!” “Jaga Nafas biar teratur!”… dan hal lain yang diajarkan teman-teman di sini yang membuka wawasan saya tentang teknik lari yang baik. Saya langsung berpikir, pantas saja selama ini saya merasa cepat sekali capek ketika berlari dan inginnya segera berhenti. Yang saya pikir itu adalah karena faktor “U”, ternyata lebih dikarenakan teknik larinya yang tidak benar. Paling tidak, pemahaman ini akan saya simpan untuk menemani saya berlari tanpa diganggu oleh pikiran “U” tersebut.

Sehari sebelum hari H, pikiran ‘pemula’ kembali memenuhi kepala saya. ‘Bisa nggak ya saya lari di ajang ini?’, mengingat begitu banyak pelari-pelari kencang yang berlomba-lomba untuk mengikuti ajang Pocari Sweat ini. Sampai kemudian saya bertanya ke Mas Eldi, “Beneran nih, saya boleh menggunakan seragam Skolari? Saya khawatir jadi malu-maluin. Lariku kan belum bagus. Nanti malah ada yang ngatain, ‘Skolari kok larinya jelek, finish-nya paling buntut? Dan sebagainya’.

Mas Eldi yang memahami masalah saya tersebut, akhirnya memotivasi aku. Dia bilang, “Ayolah, Mbak pasti bisa. Yakin sajalah. Tidak usah memikirkan menang atau kalah. Yang penting kita lari yang benar saja, lalu finish strong and happy”.

Ajang yang ditunggu-tunggu sekaligus mencemaskan itupun akhirnya datang juga. Seperti kata Mas Eldi, saya mencoba mengosongkan pikiran yang bisa membebani. Sambil berharap agar tidak finish paling bontot.

Sampai pada sesi pemanasan dan peregangan bareng teman-teman skolari sebelum lomba, saya masih malu-malu menggunakan seragam Skolari. Takut bakal mengecewakan mereka. Sampai pada akhirnya, GO! Sayapun berlari 10K untuk pertama kalinya.

Upaya saya untuk sebisa mungkin mengurangi beban pikiran sepertinya berhasil. Setelah berjuang mengalahkan berbagai pikiran di kepala, saya berhasil sampai di titik finish. Dan yang mengejutkan adalah, ternyata waktu finishku termasuk yang bagus. Jelas girang banget. Jadi tidak memalukan. Aku segera laporan ke mas Eldi, “Yess... Ternyata aku bisa Finish Strong and Happy!”

Berbekal pengalaman tersebut, rasa percaya diriku mulai timbul, dan semakin keranjingan lari. Setiap ada informasi lomba lari saya ikutan. Target saya adalah, selalu untuk mencoba memperbaiki baik secara teknik, maupun rekornya. Walaupun, kalau dibilang bagus-bagus sekali aku belum yakin juga. Paling tidak, pedenya mulai ada.

Sampai sekarang, aku sudah mengenakan seragam skolari untuk yang ketiga kalinya. Dan yang aku rasakan, semakin ke sini, aku semakin pede karena bisa berlari tanpa ada keharusan untuk memenuhi harapan siapapun. “Run for fun, Finish Strong, and be Happy”. Itulah aku sekarang, berkat Skolari.